Tuesday, December 23, 2008

Lady in Waiting

Akhirnya selesai juga baca buku ini. Butuh waktu setengah tahun buat menyelesaikannya karena sering ketunda atau pun lebih memilih baca novel (hehehehe).
Tetapi mungkin dikarenakan pada awal membacanya gue masih belum siap untuk dibongkar hatiku dan disadarkan bahwa selama ini gue belum menjadi yang terbaik bagi Allah di dalam penantian.

Anyway, ketika membaca kedua kalinya gue justru lebih mendapat banyak hal. Dan juga mungkin karena sekarang hatiku sudah lebih siap dan gue pun sudah lelah patah hati berulang kali.

Dari sekian banyak bab yang ada di buku ini, ada satu bab yang "gue banget" nih,
yaitu "Wanita yang memiliki Rasa Aman"
Banyak hal yang bikin gue tertegur dan menyadari bahwa gue masih belum mempunyai rasa aman dalam hal relationship, khususnya dengan Tuhan. Tidak heran kalau gue mengalami masalah dalam hal mempertahankan suatu hubungan.

Rasa
tidak aman menghindarkan seorang wanita dari pengalaman sukacita yang terus menerus sekalipun didalam suatu hubungan karena seorang pria tidak dapat menyediakan rasa aman, Hanya Allah yang dapat menyediakan rasa aman. Rasa tidak aman menyebabkan kita bergantung pada suatu hubungan. Anda merasa kurang yakin kecuali Anda memiliki seorang pria (p.110).

Padahal, tidak ada seorang pria, bahkan tidak seorang suami, dapat mengisi kebutuhan yang gue rasakan, kebutuhan akan kasih yang aman. Hanya Yesus yang, "tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya," tidak akan pernah mengecewakan atau membiarkan gue (p.113)

Dan satu bagian yang sangat mencengangkan, satu kesalahan yang selama ini sering gue lakukan di dalam suatu hubungan;

Elisabeth Elliot ( Passion and Purity author) mengatakan bahwa ia sering ditanya ” Apa yang harus aku lakukan agar dia memperhatikan aku”? Catat baik-baik nasehat yang dia berikan
” jawabanku adalah ‘tidak ada’ Tidak ada yang dapat dilakukan kepada si pria”
“Jangan meneleponnya; jangan menulis surat pesan pendek dengan membubuhi gambar tersenyum atau sebuah bunga atau ikan dibawah tanda tangan lalu meletakkannya di kotak pos kampus. Jangan menghmpirinya di lorong dan dengan megap megap berkata ‘aku harus berbicara padamu!’. Jangan terlihat muram, jangan mengabaikannya, jangan mengejarnya, jangan berbaik hati menolongnya, jangan berbicara tentang dia kepada sembilan orang yang pendengar yang dipilih dengan hati hati”
“Ada satu hal yang anda dapat lakukan: serahkan seluruh urusan pada Tuhan. Jika dia pria yang Tuhan miliki bagimu, ‘Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidk bercela’. Arahkan energimu pada ketaatan, bukan untuk mengikat pria itu, Tuhan memiliki metodenya sendiri untuk mempertemukan kalian berdua. Ia tidak memerlukan pertolongan atau nasihatmu”
Percayalah bahwa Allah akan menjagamu, apa pun juga keadaanmu. Anda hanya dapat melihat bagian luar seorang pria dari sudut pandang masa sekarang. Allah melihat hati pria dari sudut pandang kekekalan. Dengan sudut pandangnya, Dia dapat melihat lebih baik apa yang anda butuhkan. Percayakanlah kepada-Nya dan biarkan Dia menunjukkan betapa dapat diandalkannya kasih-Nya bagimu.

Inilah yang harus gue pelajari dan laksanakan jika gue pingin menjadi lady in waiting yang berkenan di mata Allah dalam penantiannya.

Dan ketika sekarang ada seorang pria yang sebelumnya gue taksir dan ternyata dia single-bukan in a relationship- toh harapan kembali ada, apalagi banyak pihak mau membantu alias mencomblangkan (termasuk ndut heeheh).

Tapi satu doa dari buku ini terngiang-ngiang di benak gue dan akhirnya gue panjatkan,

"Bapa, hatiku lembut, rapuh, dan mudah pecah.
Aku telah mencoba untuk mencari orang yang akan menyayangiku,
tanpa melihat pandangan-Mu. Hatiku telah
hancur dan emosiku memar, Aku minta Engkau mengambil dan menjaga
hatiku. Aku akan memilih untuk tidak mempertimbangkan
pikiran-pikiran dan emosi cinta yang menyebabkan aku
menyerahkan hatiku dengan begitu mudah.
Aku akan segera datang kepadaMu waktu aku mulai merasa jatuh cinta.
Tolong pegang kunci hati dan emosiku sampai hari dimana
aku memberikannya pada pria yang Engkau persiapkan bagiku."


Dan akhirnya gue berusaha untuk mengubur semua fantasi-fantasi romantis yang sudah sempat berkembang dan berusaha menghiraukan perasaan ini. Gue bahkan juga berusaha untuk tidak cerita kepada teman-teman gue ttg perasaan ini, bahkan ke duma sekalipun. Tapi akhirnya cerita juga ke ndut walo tidak mendetil. Dan sebelnya dia bisa langsung menebak dalam satu kali tebakan. Tapi gue emang sengaja chat lagi sama ndut (walo gue tahu itu ga baik) buat mengalihkan pikiran dan perasaan ini. Dan itu berhasil...ah ndut

jadi kangen sama ndut niy...

0 komentar: