Sunday, June 20, 2010

How I met him

Bagaimana dua orang bisa bertemu dan kemudian suka, lalu jatuh cinta, berpacaran, bertunangan, dan akhirnya menikah dan berkeluarga? Bagi sebagian orang memang simple, tapi ada juga yang mengarungi waktu bertahun-tahun untuk bisa mengalaminya. Bagaimana orang bertemu memang aneh, absurd, kompleks. Tidak ada yang tahu pasti kapan soulmate bisa datang. Cerita tentang bagaimana sepasang kekasih bisa bertemu dan mengarungi kehidupan bersama selalu menarik untuk diperdengarkan. Bagaimana Tuhan yang mempertemukan dengan caraNya yang tidak dapat dimengerti oleh manusia dan akhirnya menyatukan mereka di dalam suatu ikatan yang tidak bisa terpatahkan oleh manusia.
Demikian juga dengan kisahku dengan Hansen. Pertama kali kami berkenalan justru pada waktu kepanitiaan wedding teman kami, Helena&Ryan. Walaupun kami satu kepanitiaan dan pernah sekali rapat bareng tapi kami justru baru berkenalan pada hari H wedding, 25 oktober 2008.
Nama dia sebetulnya sudah familiar di telingaku. Sudah sering melihat nama dia di susunan kepanitiaan Perkantas ataupun mendengar nama dia disebutkan oleh orang lain. Dan rasanya pun juga pernah melihat dia beberapa kali di acara-acara Perkantas. Tidak heran aku merasa sudah tahu dia dan tidak perlu merasa perlu kenalan lagi. Apalagi ketika rapat bersama kami duduk hampir berdekatan. Hanya ogin (panitia lain) yang menjadi penghalang kami hehehe. Makanya pas sehari sebelum tgl 25, ketika bertemu dia di seminar RBC aku pun menyapa dia dan menanyakan besok datang ke gereja, yang cuma dibalas dgn kata “iya”.
Pada waktu pemberkatan di gereja, seharusnya aku datang pagi. Tetapi karena bangun kesiangan, akhirnya telat satu jam dari jadwal yang ditentukan. Dan makin panik ketika melihat gereja masih sepi dan ga tahu ruangan buat pemberkatannya. Akhirnya memberanikan diri menyapa dia yang lagi berdiri di depan gereja.
L: “eh..tahu ruangannya yang mana ga yah?”
H: “eh..apa yah Ci?”
Begitu mendengar sapaan dia itu “Ci...” aku hanya bisa terdiam, bengong antara percaya dan tidak percaya. Baru kali ini disapa dengan panggilan seperti itu oleh orang yang lebih tua dari aku.
Tapi melihat aku bengong mungkin membuat dia menyadari kesalahannya dan buru-buru meralat perkataannya, dan minta maaf karena lupa nama aku. Akhirnya kami berkenalan dan segera saling membantu menyusun berbagai keperluan pemberkatan. Setelah semua sudah selesai dan masih tidak ada tanda-tanda panitia lain akan datang, akhirnya kami menghabiskan waktu dengan saling berkenalan satu sama lain. Kuliah dimana, kerja apa, dan pertanyaan standard lainnya. Setelah itu kami pun sudah larut dengan kesibukan dan tidak ada waktu lagi untuk saling berkenalan.
Ketika ada waktu makan untuk panitia, tanpa sengaja kami mengambil makanan bersama-sama, dan karena enggan bercampur dengan pihak keluarga, akhirnya kami duduk berdua di pojokan dan teman-teman panitia yang lain pun menghampiri dan makan bersama. Entah kenapa saat itu, justru aku menikmati kebersamaan itu. Dan sepanjang pesta, entah kenapa aku merasa sangat nyaman bersama dia, merasa terlindungi ketika dia ada di samping ku. Kalau seperti istilah lagu, “Feels like home”, merasa bisa menjadi diri sendiri dan merasa “nyambung” sama dia. Padahal di kepanitiaan itu ada Donny, yang sebetulnya secara background pendidikan dan pekerjaan kami bisa nyambung, tapi nyatanya apa yang aku rasakan bersama Donny tidak sama dengan apa yang aku rasakan bersama Hansen. Dan aku sangat menikmati kebersamaan abstrak dengan Hansen pada malam itu. Ketika acara sudah selesai, akhirnya iseng menanyakan tentang status dia.
L: “eh kapan nyusul Ryan?” :)
H: “segera” (tapi dengan helaan napas panjang)
L: “oh..” :) ---- (tapi dalam hati kecewa juga)
Pulang dari pesta, dengan keletihan yang luar biasa, malah yang dituju pertama kali adalah komputer. Cek facebook dan friendster cari info tentang dia. Tapi ga bisa lihat datanya karena kami belum menjadi teman. Tapi ketika melihat foto dia di facebook bersama seorang cewek (yang walaupun terpotong setengah mukanya), hatiku langsung mencelos. Yah ternyata dia sudah punya cewek. Sampai disitu, aku pun sudah berniat melupakannya karena berpikir kami tidak akan ketemu lagi dan tidak bisa berhubungan lagi karena tidak mempunyai nomor telponnya.
Dan aku pun melanjutkan hidupku. Tapi beberapa kali entah kenapa selalu terpikirkan dia. Akhirnya memberanikan diri add dia di facebook dan friendster. Begitu sudah jadi teman dan membaca biodata dia dan terutama status dia, malah jadi bingung. Kok single tapi pasang foto cewek??? Tapi aku tetap takut menanyakannya. Dan karena aku tipe orang yang penasaran, akhirnya karena penasaran memberanikan diri mengomentari status dia di facebook dan bertanya soal foto itu. Ternyata Cuma foto bersama temannya (senangnyaaa...).
Setelah itu berusaha mengomentari status dia yang lain, dan mencoba taktik lain yaitu chatting di facebook walau Cuma sebentar. Dan ketika di bulan Desember 2008, tanpa di duga Ryan&Helena mengajak panitia wedding untuk kumpul dan makan bersama, kami akhirnya bertemu lagi. Dan pertemuan kedua ini lebih mengesankan, sepanjang perjalanan rasanya sanguin aku keluar dan menemukan banyak kecocokan teman dengan dia. Baru menyadari kalau dunia memang sempit karena teman-teman kerjaku ternyata teman dia di gereja juga. Tapi pertemuan kedua ini pun berlalu dengan begitu saja sampai di awal Januari ketika aku mempunyai ide mau memberikan kado pernikahan buat Ryan&Helena dari panitia, akhirnya dia yang menawarkan diri buat membelinya. Lama tidak dengar kabar soal kado itu, akhirnya aku memberanikan diri mengirimkan pesan via facebook kepada dia, dan dibalas dan dia mulai mengomentari foto profile aku. Ternyata saat itu dia juga lagi online di facebook, akhirnya kami pun chattingan via facebook dan berujung dia mengajak aku dan panitia yang lain buat jalan bareng untuk cari kado dan dia menanyakan nomor telponku (lalalala....)
Tapi sedihnya pada saat yang telah direncanakan, dia justru tidak bisa ikut. Akhirnya aku pun hanya bisa pergi bersama Donny. Anehnya, aku malah sedih sekali dan down. Setelah itu, aku sadar sudah tidak ada moment dan hal yang bisa membuat kami bertemu dan berhubungan, dan aku pun melanjutkan hidupku kembali dan tidak memikirkan dia.
Tahun baru Cina, 26 januari 2009. Entah kenapa setelah habis telponan sama duma, tiba-tiba jadi teringat dia kembali dan pingin banget sms dia. Setelah didorong sama duma, akhirnya aku pun sms dia dan teman-teman yang lain juga siy, hanya ucapan selamat tahun baru Cina tapi dengan gaya jayus. Eh tidak disangka justru dia membalas ucapan itu dengan jayus juga yang membuat aku tergoda untuk membalas. Dan kami pun akhirnya saling berbalas-balasan sampai larut malam sampai akhirnya aku memutuskan untuk tidur. Dan ketika di antara puluhan sms malam itu, ketika dia menanyakan soal perubahan statusku, baru kali itu aku bisa bercerita dengan orang yang tidak dekat.
27 Januari 2009. Duma tiba-tiba kepikiran soal bisnis online dan mendorongku buat nanya Ryan tentang hal itu. Tapi aku malah nanya Hansen soal itu by email dan kemudian dia memfollow up by sms. Akhirnya kami kembali ber-sms ria.
28 januari 2009. Hari ini ulang tahun ke 26. Dan ternyata dia mengucapkan, walau baru aku balas malamnya, dan kemudian kami saling mengomentari satu sama lain.
Selanjutnya frekuensi sms kami tidak serutin 3 hari itu, tapi beberapa kali kami saling berkirim sms soal kata-kata mutiara maupun ketika dia mengomentari status ku di facebook yang telat dibahas dan dia sms aku untuk menanyakan soal maksud status itu. Sampai akhirnya ketika aku ingin mentraktir teman, dan Ryan mengusulkan untuk mengajak Hansen dan Donny, akhirnya aku pun mengajak dia. Ketika Donny tidak bisa datang, akhirnya kami pun jadi seperti triple date.  Malamnya pun diantar pulang oleh dia, dan terkejut juga dia bercerita soal akk-nya maupun menanyakan soal keluarga.
Setelah itu aku pun sadar sudah tidak ada kesempatan lagi untuk bertemu, dan memilih melanjutkan hidupku. Tapi entah kenapa terkadang diri ini memikirkan dia dan sesekali berhubungan dia mengenai masalah Sola Scriptura (sempat bingung juga siy kenapa dia sampai tiga kali ngajakin gabung panitia Sola Scriptura). Setelah acara Sola Scriptura selesai, aku sadar sesadarnya ini adalah akhir dari kesempatan kami. Rasanya tidak mungkin ada kesempatan lain deh. Tapi ternyata 2 hari sesudah itu, Ryan mengajak aku dan panitia lain buat nonton bareng. Alasannya karena Hansen mau ketemu Ryan buat ambil buku. Akhirnya kami pun ketemuan dan nonton bareng, pulang diantar oleh dia tapi kali ini dia hanya diam saja. Bingung.
Entah ada angin apa, akhirnya seminggu setelah itu aku memberanikan diri buat mengajak dia nonton “Confession of Shopaholic”. Ternyata dia ok juga. Dan karena kesalahpahaman akhirnya aku jadi nonton berdua saja sama dia, ternyata dia yang tadinya kelihatan agak ogah-ogahan nonton malah yang tertawa paling keras dan terlihat sangat menikmati :) Dan membawa atmosfir yang sangat baik sehingga akhirnya kami pun makan bareng dan selanjutnya pun janjian lagi untuk nonton berdua. Tapi rupanya hanya sampai di tanggal 9 April saja. Karena ketika pada tanggal 13 April, aku mengucapkan selamat ulang tahun ke dia, tapi tidak ada balasan dari dia. Dan akhirnya aku pun memutuskan untuk tidak mengharapkan dia. Dan tidak mendengar kabar dia lama sekali. Aku memutuskan untuk membuka hati buat orang-orang lain yang sudah mendekatiku sebelumnya tapi selalu kutolak. Tapi walau sudah membuka hati, toh aku merasa mereka bukanlah orang yang aku cari selama ini dan aku pun menutup hati lagi. Tapi jauh di lubuk hati yang terdalam aku tetap berharap bisa berhubungan kembali bersama Hansen walau tidak tahu caranya bagaimana.
Suatu hari ada pengumuman di YM yang memberi tahu bahwa kita bisa berhubungan dengan teman-teman di facebook yang mempunyai account yahoo. Iseng aku pun mengklik itu dan akhirnya semua account itu pindah ke YM. Termasuk account dia. Dia menerima invitation itu, namun kami tidak pernah chatting di YM. Akhirnya ketika bulan masuk bulan Mei, kesibukan sudah mulai banyak dan sering bergadang untuk mengerjakan tugas. Dia sudah mulai terlupakan olehku, namun justru di saat itulah dia kembali hadir dalam hidupku. Mengomentari status di facebook, ataupun di YM sambil mengajak chatting singkat hampir tiap sore. Dan akupun menyemangati dia dengan persiapan sidang S2 nya.
Pertemuan kami kembali akhirnya di bulan Juni akhir ketika dia mengajak aku dan panitia yang lain untuk makan-makan merayakan ulang tahun dan kelulusan dia. Tapi akhirnya jadi double date. Setelah itu kami tidak bertemu lagi namun komunikasi kami sudah lebih rutin melalui chatting ataupun sms. Sampai tiba-tiba dia mengajak ketemu di bulan Agustus namun tidak jadi. Tetapi dia tetap menyemangatiku ketika aku sangat down dengan maribeli dan menyemangati membuka shmily. Libur lebaran 2009 menjadi saat yang menyenangkan bagiku karena sepanjang liburan kami tetap berhubungan dan bisa mengenal dia lebih dalam.
Tetapi setelah libur itu selesai, tiba-tiba seorang temannya secara tersamar memberitahu kalau dia menggumulkan orang lain. Hatiku menjadi gundah akan kejelasan hubungan kami, dan ketika membaca status dia, aku semakin takut kalau perkataan itu memang benar. Pengorbanan dia mengantar pulang ke rumah sampai jam 12 malam, dan pemberian oleh-oleh dari Singapur tidak sanggup mengusir kegalauan itu. Akhirnya ketika kami jalan bersama di hari Minggu, aku pun memberanikan diri bertanya soal itu semua, dan ketika tahu jawaban yang sesungguhnya aku pun sangat kecewa. Hancur, sedih, marah dengan diri sendiri yang begitu bodoh bermimpi dan berharap dengan mudahnya. Akhirnya di tengah kehancuran hati itu, aku pun memutuskan dan berdoa kepada Tuhan bahwa aku akan melupakan dia. Meminta Tuhan mencabut perasaan itu jika itu memang kehendakNya, dan membantu aku melanjutkan hidup kembali. Tetapi doaku sepertinya tidak didengar oleh Tuhan, karena aku tetap tidak kuat untuk tidak berhubungan dengan dia. Sampai akhirnya di akhir bulan November 2009, karena sudah tidak kuat dengan kegalauan ini akhirnya aku pun memberanikan diri menanyakan arah hubungan kami. Jujur saja menurutku jawaban dia saat itu pun menggantung, tetapi aku sudah membulatkan tekad untuk move on walau dengan hati yang hancur dan sakit. Tapi tekad hanyalah tinggal tekad ketika malamnya dia mengajak chatting untuk berbicara dan menutup chatting dia dengan meminta aku untuk mendoakan pergumulan dia soal kerjaan dan pasangan hidup. “keputusannya di akhir tahun” kata dia.
Ya sudah, aku pun memutuskan buat memberi kesempatan bagi dia sampai akhir tahun. Dan ketika memasuki bulan desember, kami masih tetap berhubungan dan makin intens berkomunikasi dan saling mengenal satu sama lain. Sampai akhirnya dia pun mengajak jadian tanggal 27 Desember 2009, hari minggu malam.
Itulah bagaimana aku bertemu Hansen dan akhirnya sampai dengan saat ini kami sudah menjalin hubungan selama 5 bulan 3 minggu 3 hari (pada saat tulisan ini dibuat). Kalau diingat-ingat mengenai masa pergumulan itu, aku sungguh melihat tangan Tuhan menopang aku untuk tetap berharap padaNya walau kenyataan tidak sesuai dengan harapanku. Bahkan ketika aku merasa sudah tidak ada jalan, tapi Tuhan menunjukkan jalanNya lewat hal-hal di luar pemikiran aku. Dan sekarang aku dapat melihat bahwa tiap hal dapat Tuhan pakai untuk menunjukkan pada kami bahwa Dialah Allah kami yang berkuasa dan berdaulat atas segala sesuatu.
Masa pertemuan dan perkenalan kami jika ditulis mungkin bisa tujuh lembar halaman, tapi aku sungguh berharap bahwa kisah kami tidak hanya berhenti di halaman ketujuh, tapi bisa sampai beribu-ribu halaman. Dan itu hanya bisa terjadi lewat Tangan Tuhan yang menggengam erat tangan kami berdua. Ketika kami berdua merasa bahwa genggaman itu semakin renggang karena gesekan karakter, emosi, keegoisan, atau pun hal lainnya, aku hanya bisa berdoa bahwa Tangan Tuhan tetap memegang tangan kami dan tidak akan melepaskan genggaman tangan kami.
Sadar bahwa kami adalah dua manusia yang berbeda karakter, kepribadian, sifat, latar belakang keluarga, pendidikan, pemikiran, jurusan, aktivitas, hobi, kesukaan, dan sebagainya. Aku bukanlah sanguins yang bisa setiap saat selalu ceria dan ramah kepada setiap orang. Aku bukanlah seorang kolerik yang bisa memutuskan dan berpikir rasio. Aku bukanlah seorang phlegmatik yang easy going dan nyaman dengan segala kondisi maupun situasi. Aku hanyalah seorang melankolis yang mengenakan kaca mata gelap dalam melihat dunia, yang lebih menyenangi kesendirian dan ketenangan di dalam keramaian, yang menyukai kata-kata dan lebih bisa menuangkan hati dan pemikiran lewat kedalaman makna tulisan, gambar, dan lagu, yang lebih memilih bermimpi daripada bangun menghadapi kenyataan, yang memilih menghadapi kegetiran hidup lewat tangisan dan berusaha kuat sedikit demi sedikit. Aku hanyalah seseorang yang menyukai kekelaman daripada keceriaan, yang mengagungkan cinta dan akan memelihara cinta ketika cinta itu datang dan berlabuh.
Aku sudah menemukan kapal cinta itu setelah sekian lama menanti. Ketika badai menghantam kami, aku berharap kami tetap kuat melawan badai itu dan mengarungi perjalanan bersama untuk menjadi sebuah kisah yang nantinya bisa kami ceritakan ke anak cucu kami. Hanya peganglah tangan kami berdua, berikan kami Kasih yang murni dan tulus, ajarkan kami saling rendah hati untuk mau dibentuk oleh Tuhan melalui setiap gesekan karakter yang pasti akan selalu muncul di dalam perjalanan ini, ajarkan kami untuk tidak terbawa emosi tapi selalu mencari jawaban dari semua persoalan, dan ajarkan kami juga untuk saling melayani satu sama lain. Maafkan aku yang seringkali egois dan begitu kelam menilai segala sesuatu. Aku sungguh berdoa bahwa Tuhan yang mengatur pertemuan kami, Tuhan yang sama pulalah yang akan menjaga kami melalui setiap badai-badai kecil, maupun badai besar sekalipun dalam kapal hubungan ini. Just don’t give up on me J
I Will Be Here
Tomorrow morning if you wake up 
and the sun does not appear
I will be here
If in the dark, we lose sight of love
Hold my hand, and have no fear
'Cause I will be here.
I will be here
When you feel like being quiet
When you need to speak your mind
I will listen.
And I will be here
When the laughter turns to cryin'
Through the winning, losing and trying
We'll be together
I will be here.
Tomorrow morning, if you wake up
And the future is unclear
I will be here.
Just as sure as seasons were made for change
Our lifetimes were made for these years
So I will be here.
I will be here
And you can cry on my shoulder
When the mirror tells us we're older
I will hold you
And I will be here
To watch you grow in beauty
And tell you all the things you are to me
I will be here.
I will be true to the promise I have made
To you and to the One who gave you to me.
Tomorrow morning, if you wake up
And the sun does not appear
I will be here
Oh, I will be here.


I love you always and forever, Hansen Wiriadinata

0 komentar: