Dua hari ini merupakan salah satu saat terberat bagi emosiku..bolak balik rumah sakit (5 rumah sakit berbeda dalam 3 minggu, 5 dokter berbeda dengan 5 pendapat berbeda), tekanan secara tidak langsung dari tempat kerja untuk cepat-cepat sembuh, teman-teman, kondisi yang lama membaik, rontgen, MRI. Dan di kala kecapean karena habis terapi dan menunggu hasil MRI, perasaan ini menjadi kalut. Sudah berdoa, baca buku, denger lagu rohani dan sekarang sudah lebih tenang dan pasrah. Namun manusia tetaplah makhluk sosial yang membutuhkan teman yang bisa mendukungnya, and I don't have right now. I don't have someone for I can express my fear, my emotion right now. I just want it simple...
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring... sakit
Yang sudi dekat, mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Dan berbisik : "Pandang aku, kau tak sendiri, oh dewiku..."
Seperti dï lagu, " Curhat buat sahabat"
Sahabatku, usai tawa ini
Izinkan aku bercerita:
Telah jauh, ku mendaki
Sesak udara di atas puncak khayalan
Jangan sampai kau di sana
Telah jauh, ku terjatuh
Pedihnya luka di dasar jurang kecewa
Dan kini sampailah, aku disini...
Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring... sakit
Yang sudi dekat, mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Dan berbisik : "Pandang aku, kau tak sendiri,
oh dewiku..."
Dan demi Tuhan, hanya itulah yang
Itu saja kuinginkan
Sahabatku, bukan maksud hati membebani,
Tetapi...
Telah lama, kumenanti
Satu malam sunyi untuk kuakhiri
Dan usai tangis ini, aku kan berjanji...
Untuk diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring... sakit
Menentang malam, tanpa bimbang lagi
Demi satu dewi yang lelah bermimpi
Dan berbisik : "Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku..."
Sent from my LauceBerry®





0 komentar:
Post a Comment